Jumlah anak putus sekolah tingkat Sekolah Dasar masih tinggi, meski
sudah ada upaya peningkatan akses pendidikan dasar lewat program Bantuan
Operasional Sekolah. Data pada Kementerian Pendidikan Nasional
(Kemendiknas), pada 2009 sedikitnya 483 ribu anak usia SD tidak lagi
meneruskan pendidikan. Mereka ada yang berhenti sebelum kelas 6, tidak
melanjutkan ke tingkat SMP.
“Sebenarnya ada solusi menangani anak
putus sekolah SD, yakni dengan masuk Paket A pendidikan kesetaraan.
Tapi yang mampu dilayani paling 200 ribu anak," kata dirjen Pendidikan
Non Formal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad,
tadi malam.
Dia mengaku khawatir, jika dibirkan saja, anak-anak
putus sekolah itu akan menambah daftar panjang penyandang buta aksara.
Terlebih jika terlanjur
drop out saat kelas 2 atau 3 SD, dimana
keterampilan membaca masih terbatas. “Padahal kita sedang menjalankan
program nasional percepatan pemberantasan buta aksara. Kalau begini
terus sulit ditangani sampai tuntas,” ujarnya.
Saat ini,
sedikitnya 8,3 juta orang Indonesia masih buta aksara atau tidak bisa
menulis dan membaca huruf latin. Lebih dari separuhnya perempuan dan di
dominasi usia 45 tahun ke atas. “Kalau tidak terus menerus di eliminasi,
kantung-kantung buta aksara bisa terus bertambah. Karena tidak jarang
orang tua yang buta aksara karena kemiskinan, melahirkan generasi buta
aksara. Kemiskinan jadi terstruktur,” kata Hamid.
Di sisi lain,
program kesetaraan Paket A juga belum mampu memenuhi target. Dari sekira
200 ribu daya tampung Paket A di Indonesia, hanya mampu mendapatkan
anak didik 100 ribu orang. Itu, kata Hamid, disebabkan para pendamping
atau tutor paket A tidak sanggup menyisir keberadaan anak-anak putus
sekolah di wilayah pedalaman. "Karena itu kita akan terus meminta kepada
pemerintah daerah bersama-sama proaktif mengajak anak putus sekolah
untuk kembali belajar. Tidak harus di sekolah formal, bisa juga di paket
A setara SD atau paket B setara SMP,” ujarnya.
Sumber : Waspada Online