Walaupun
pemerintah tengah giatnya menggalakkan program wajib belajar,
tampaknya tak seperti itu yang dirasakan warga Muara Angke, Pluit,
Penjaringan, Jakarta Utara.
Pasalnya, sedikitnya 120 anak putus
sekolah terpaksa bekerja sebagai pengupas kerang atau kijing di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke.
Hal itu terkuak saat kegiatan
reses Wakil Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Sharianta Tarigan, dengan
warga RW01, Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
"Dari
data yang kami kumpulkan ada sekitar 120 anak-anak putus sekolah yang
terpaksa membantu orang tuanya bekerja sebagai pengupas kerang atau
kijing. Padahal, usia mereka masih wajib belajar. Oleh karena itu, kami
meminta bantuannya agar mereka bisa mengenyam pendidikan," kata Suryadi,
salah satu pengurus Karang Taruna RW01, Muara Angke, Pluit,
Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (30/03).
Lebih lanjut
diungkapkannya, selain itu tak sedikit kaum pemuda Muara Angke yang
masih menganggur. "Kami juga berharap bisa mendapatkan fasilitas
pelatihan kerja seperti service handphone, komputer, maupun montir
kendaraan agar pemuda di sini bisa hidup mandiri," katanya.
Keluhan
serupa juga diutarakan, Suryani, salah satu pengajar di Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) RW01 yang mengatakan, saat ini bantuan pemerintah terhadap
honorarium bagi pengasuh maupun pengajar sangatlah minim.
Padahal,
keberadaan PAUD sangat dibutuhkan masyarakat sekitar. "Kami sangat
membutuhkan dukungan pemerintah dalam mengoptimalkan PAUD ini karena
sangat bermanfaat sekali, khususnya bagi mereka yang tidak mampu
menyekolahkan anak-anaknya ke Taman Kanak-Kanak," katanya.
"Sebenarnya kan sudah BLKD
yang bisa dimanfaatkan, memangnya tidak aktif di sini. Nanti akan saya
fasilitasi," katanya sembari memberikan bantuan Rp 1 Juta kepada karang
taruna untuk pelatihan reverasi handphone.
Dia juga menyayangkan
masih adanya anak-anak wajib belajar yang harus terpaksa bekerja sebagai
pengupas kijing maupun kerang. Sejatinya pemerintah melalui Sudin
Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Utara tidak menutup mata dengan
kondisi tersebut.
"Masalah ini akan kami bawa pada rapat
paripurna dengan eksekutif. Begitu juga dengan kesejahteraan para
pengajar di PAUD harus diperhatikan," tandasnya yang juga memberikan
bantuan Rp 1 Juta bagi para guru PAUD di Muara Angke tersebut.